- Pemkot Bontang Pastikan APBD 2027 Fokus pada Program Prioritas di Tengah Tekanan Fiskal
- DKP3 Bontang Bekali Nelayan Pengetahuan Mitigasi Bencana untuk Kurangi Risiko di Laut
- DKP3 Bontang Perkuat Sinergi Perluas Akses Permodalan bagi Pelaku Usaha Sektor Pangan
- DKP3 Bontang Sinkronkan Data Pupuk Bersubsidi, Pastikan Distribusi Sesuai Kebutuhan Petani
- DKP3 Bontang Terapkan Penyaluran Benih Ikan Bertahap untuk Jaga Siklus Produksi Pembudidaya
- DKP3 Bontang Cek Langsung Lokasi Budidaya Ikan Sebelum Tetapkan Penerima Bantuan
- DKP3 Libatkan Kelompok Tani Dukung Pencegahan Stunting Lewat Bantuan Ayam Petelur
- DKP3 Bontang Verifikasi Bantuan Jaring, Pastikan Sesuai Kebutuhan Nelayan
- DKP3 Bontang Perkuat Pelaporan Sisa Pangan SPPG untuk Evaluasi Program MBG
- Pemkot Bontang Perluas Transaksi Non-Tunai, Tiga OPD Terima Perangkat Pembayaran Digital
Thohiron Imbau Sekolah di PPU Hentikan Penjualan Buku

Keterangan Gambar : Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Penajam Paser Utara, Thohiron. (*)
ANALOGNEWS.id, PENAJAM - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Penajam Paser Utara, Thohiron, menyerukan kepada seluruh sekolah di wilayah tersebut agar tidak melakukan praktik penjualan buku pelajaran, bahan ajar, atau perlengkapan lainnya kepada siswa.
Thohiron menegaskan bahwa pemerintah sudah menyediakan buku pembelajaran dalam bentuk cetak maupun digital secara gratis, yang seharusnya mencukupi kebutuhan siswa.
"Sebenarnya, buku paket sudah tersedia dari pemerintah, bahkan beberapa bisa diakses melalui aplikasi digital dan itu sudah memadai," ujar Thohiron.
Baca Lainnya :
- Kesetaraan Gender Dorong Perubahan Signifikan di PPU0
- Syahrudin M Noor Minta Dukungan KKP RI untuk Kesejahteraan Nelayan di PPU0
- Musim Hujan dan Tantangan Hama Tikus di PPU, DPRD Siapkan Langkah Antisipasi0
- Syahrudin M Noor Minta Prioritas Penanganan Stunting di Sepaku0
- Raup Muin Ingin Pemkab PPU Kembangkan Sektor Pariwisata0
"Pihak sekolah seharusnya tidak membebani siswa dengan biaya tambahan untuk membeli buku. Hal ini justru menjadi beban bagi orang tua yang ingin anak-anaknya mendapatkan pendidikan berkualitas tanpa harus mengeluarkan biaya ekstra," tambahnya.
Thohiron berharap sekolah-sekolah di PPU memanfaatkan sepenuhnya fasilitas buku yang disediakan pemerintah agar siswa dapat belajar tanpa harus terbebani biaya tambahan.
“Diimbau juga tetap menggunakan fasilitas yang disediakan pemerintah supaya tidak menambah beban siswa maupun orang tuanya,” katanya.
Meski demikian, Thohiron mengakui bahwa penerapan larangan ini tidak selalu mudah dan ada tantangan di lapangan. Ia mengungkapkan bahwa penjualan buku di sekolah masih kerap terjadi, terutama di daerah dengan keterbatasan akses.
Beberapa wilayah yang kesulitan sinyal internet atau tidak memiliki akses yang memadai terhadap buku-buku pemerintah sering kali memicu terjadinya praktik penjualan buku secara mandiri oleh sekolah.
“Terkadang, ada sekolah yang terpaksa menjual buku karena berada di wilayah dengan keterbatasan sinyal atau akses buku yang minim, sehingga situasi ini cukup kasuistik,” jelas Thohiron. (Adv)










.jpg)
