- Pemkot Bontang Dorong Penanggulangan TB Jadi Bagian dari Pelayanan Publik
- Agus Haris Desak PLN Hentikan Pemadaman Bergilir di Bontang
- Pemkot Bontang Siapkan Integrasi Program Mengaji ke Wajar 19.00-21.00
- Pemkot Bontang Kaji Skema Tambahan Guru Ngaji Berbasis Jumlah Murid
- 15.410 KK di Bontang Terima Bantuan Beras Selama Tiga Bulan
- Neni Tekankan Perubahan APBD 2026 Harus Beri Dampak Nyata
- Bantuan Beras Jadi Penyangga Stabilitas Pangan di Bontang
- Neni Ungkap Alasan Sejumlah Program Bontang Ditunda
- Neni Perkuat Peran FKDM sebagai Mata dan Telinga Pemerintah
- Pemkot Bontang Bakal Tata Kandang Ayam di Bontang Lestari, Neni Minta Tak Ada Penambahan Bangunan
Pemkot Bontang Kaji Skema Tambahan Guru Ngaji Berbasis Jumlah Murid

Analognews.id, BONTANG - Pemerintah Kota Bontang tengah mengkaji skema penambahan guru ngaji untuk mendukung keberlanjutan program pendidikan keagamaan di lingkungan sekolah.
Wakil Wali Kota Bontang Agus Haris mengatakan, skema tersebut akan mempertimbangkan rasio antara jumlah murid dengan tenaga pengajar agama yang tersedia.
“Kalau kita hitung berdasarkan rasio jumlah murid dengan jumlah guru PAI, nanti bisa dibuat skema baru. Apakah kita menambah guru ngaji yang lain untuk mencapai rasio yang ideal,” ujarnya, Senin (14/9/2026).
Baca Lainnya :
Ia mencontohkan, kebutuhan tenaga pengajar nantinya dapat dihitung berdasarkan jumlah murid yang harus dibina oleh seorang guru ngaji. Namun, angka rasio tersebut masih akan dibahas lebih lanjut oleh pemerintah.
Agus mengatakan, untuk sementara Pemkot Bontang akan mengoptimalkan insentif yang telah diberikan kepada guru, termasuk guru Pendidikan Agama Islam (PAI), sembari menghitung kebutuhan tenaga pengajar tambahan.
“Untuk sementara kita andalkan dulu insentif yang sudah ada. Itu yang akan kita maksimalkan,” katanya.
Menurutnya, keterbatasan fiskal daerah menjadi salah satu pertimbangan dalam menyusun skema pembiayaan program tersebut. Kondisi APBD yang masih mengalami tekanan membuat pemerintah harus menghitung kebutuhan secara cermat agar program dapat berjalan berkelanjutan.
Karena itu, pemerintah belum menetapkan bentuk pembiayaan tambahan untuk program tersebut. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan akan terlebih dahulu memetakan jumlah guru, murid, jam pembelajaran, serta kegiatan keagamaan yang sudah berjalan di sekolah.
“Nanti kami harus rapat dulu di Disdikbud, menghitung jumlah jam yang tersedia dengan jumlah jam pelajaran dan ekstrakurikuler yang ada. Dari situ baru kita tempatkan programnya,” jelas Agus.
Ia menegaskan, penguatan pendidikan agama tidak hanya dapat dibebankan kepada sekolah. Keluarga juga memiliki peran penting dalam mendampingi anak, khususnya dalam pembiasaan mengaji dan pendidikan keagamaan di rumah.
Selain itu, pemerintah pun menyambut baik program Alir yang diluncurkan KKG PAI sebagai salah satu upaya memperkuat pembinaan keagamaan bagi pelajar.
“Harapnnya, program tersebut dapat menjadi bagian dari upaya membentuk generasi yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga karakter dan nilai keagamaan yang kuat,” pungkasnya.










.jpg)
