Babulu Menatap Industri Rumput Laut: Dari Tambak Tradisional Menuju Pabrik Pengolahan

By Redaksi 18 Jun 2025, 13:16:02 WIB DPRD PPU
Babulu Menatap Industri Rumput Laut: Dari Tambak Tradisional Menuju Pabrik Pengolahan

Keterangan Gambar : Anggota DPRD Penajam Paser Utara (PPU) Sujiati. (*)


ANALOGNEWS.id, PPU – Babulu tak lagi sekadar kampung nelayan dengan tambak-tambak sederhana yang bergantung cuaca. Di balik bentangan waring penjemuran, geliat baru ekonomi lokal mulai merintis jalan.

Rumput laut jenis sangu-sangu, yang dahulu hanya jadi komoditas setengah terabaikan, kini perlahan naik kasta menjadi penopang harapan. Namun potensi itu, kata Anggota DPRD Penajam Paser Utara (PPU) Sujiati, tak akan berarti banyak jika sekadar berhenti di tahap panen.

“Kita ini terlalu lama jual mentah. Padahal nilai tambahnya kalau diolah setengah jadi bisa naik berkali lipat,” ujar Sujiati, yang kini mendorong terwujudnya pabrik pengolahan produk rumput laut setengah matang di Babulu.

Baca Lainnya :

Bagi Sujiati, gagasan pabrik bukan sekadar wacana ambisius. Ia menilai upaya ini sebagai strategi menyejahterakan petani yang selama ini berada di ujung paling rapuh rantai pasok.

“Kalau produk setengah jadi, harga jualnya lebih tinggi. Itu lebih adil bagi petani,” katanya.

Selama ini, petani hanya mampu menjual dalam bentuk curah. Ketergantungan pada pembeli besar membuat harga sangat fluktuatif. Musim hujan memperpanjang proses pengeringan, mengakibatkan mutu turun dan margin keuntungan semakin tipis.

Karena itu, Sujiati memastikan sebagian besar aspirasinya di tahun ini telah diarahkan pada penguatan sektor rumput laut.

“Kemarin teman-teman juga meminta bantuan waring untuk menjemur, dan itu sudah terealisasi,” jelasnya.

Waring sederhana itu, yang sehari-hari terbentang di pekarangan tambak, tak hanya melindungi panen dari tanah becek. Ia juga simbol bahwa perubahan kadang datang dari hal kecil yang konsisten diperjuangkan.

Bagi petambak lokal, langkah kecil ini memberi napas baru. Proses penjemuran yang lebih cepat menjaga mutu sangu-sangu tetap prima saat dijual. Harga pun jadi lebih layak.

Di sisi lain, tren positif muncul dari keberanian petambak mulai menghidupkan kembali lahan tambak mereka, yang sempat terbengkalai karena fluktuasi pasar.

“Sekarang sudah banyak tambak-tambak yang menghidupkan sangu-sangu,” kata Sujiati, optimistis.

Namun bagi dia, potensi Babulu tak akan pernah menjadi cerita besar kalau tidak diikuti kebijakan yang benar-benar berpihak.

“Kalau mau naik kelas, harus ada keberanian membangun pengolahan lokal. Karena kalau tidak, petani kita akan tetap jadi penonton,” tutupnya. (Adv)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Loading....


Kanan - Iklan Sidebar

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Instagram, Youtube dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.