- HAN 2026, Pemkot Bontang dan BAZNAS Beri Dukungan bagi 300 Anak
- Bimbingan Pra Nikah Remaja, Pemkot Bontang Dorong Pelajar Fokus Siapkan Masa Depan
- HUT ke-36 PW-BKAG Bontang, Agus Haris Dorong Perempuan Perkuat Pelayanan Sosial
- Pusdiklat Paskibraka Bontang Dimulai, Agus Haris Tekankan Pembentukan Karakter
- Harganas ke-33, Wali Kota Bontang Soroti Pentingnya Kehadiran Ayah dalam Keluarga
- Wali Kota Bontang Pastikan 11 Rekomendasi BPK Masih Dikawal hingga Tuntas
- 132 Mahasiswa KKN Kolaborasi Diterjunkan ke 15 Kelurahan di Bontang
- Pemkot Bontang Perkuat Perlindungan Pekerja Konstruksi Lewat BPJS Ketenagakerjaan
- Pemkot Bontang Gandeng Dunia Usaha Jaga Keberlanjutan Jaminan Kesehatan Gratis
- Digitalisasi Transaksi Daerah Bontang Capai 83,4 Persen, Pemkot Perkuat TP2DD
Tren DBD Meningkat, Andi Satya Dorong Langkah Preventif dan Vaksinasi di Kaltim

Keterangan Gambar : Ilustrasi nyamuk pembawa penyakit DBD. (Foto: Ist)
ANALOGNEWS.id, SAMARINDA – Lonjakan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia menjadi perhatian serius, terutama menjelang musim pancaroba. Data Kementerian Kesehatan RI pada Maret 2024 menunjukkan 60.296 kasus dengan 455 kematian, angka yang terus meningkat seiring pergantian musim.
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kalimantan Timur (Kaltim), Andi Satya Adi Saputra, menyebut musim pancaroba, yang berlangsung dari November hingga April, sebagai periode kritis yang membutuhkan perhatian khusus.
Ia menyoroti pentingnya tindakan proaktif masyarakat dan pemerintah dalam mencegah penyebaran penyakit yang disebabkan oleh nyamuk Aedes aegypti.
“Musim pancaroba adalah waktu di mana kasus DBD cenderung meningkat. Penting bagi kita untuk memeriksa genangan air yang menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti,” ujar Andi.
Langkah-langkah preventif seperti fogging dan pengecekan lingkungan secara berkala, menurut Andi, harus menjadi prioritas di daerah-daerah rawan DBD. Ia menekankan bahwa tindakan pencegahan dini dapat menghentikan penyebaran penyakit sebelum mencapai skala yang lebih besar.
“Tindakan seperti fogging dan edukasi masyarakat sangat penting. Ini bukan hanya soal pengobatan, tetapi bagaimana kita menghentikan penyebaran penyakit sejak awal,” tambahnya.
Tidak hanya mengandalkan langkah konvensional, Andi juga mengapresiasi inisiatif pemerintah Provinsi Kaltim dalam mengimplementasikan program vaksinasi DBD sebagai langkah inovatif. Program ini difokuskan pada anak-anak usia sekolah, khususnya di bawah 10 tahun, sebagai kelompok yang rentan terhadap penyakit ini.
“Program vaksinasi DBD di Kaltim adalah langkah maju yang patut diapresiasi. Harapannya, ini mampu menekan angka kejadian dan kematian akibat DBD, terutama di kalangan anak-anak,” jelas Andi Satya.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah untuk menjaga kebersihan lingkungan sebagai upaya pencegahan jangka panjang.
Edukasi mengenai pola hidup sehat dan pengelolaan lingkungan, seperti memastikan tidak ada air tergenang di sekitar rumah, dinilai sebagai langkah strategis untuk mengurangi risiko.
“Kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan adalah kunci keberhasilan pencegahan DBD. Kita harus bergerak bersama untuk melindungi keluarga dan komunitas kita,” tegasnya.
Melalui kombinasi langkah preventif, tindakan inovatif seperti vaksinasi, dan kesadaran masyarakat yang lebih tinggi, Andi optimis angka kasus DBD di Kaltim dapat ditekan secara signifikan.
“Kita berharap, dengan sinergi semua pihak, Kaltim dapat menjadi contoh daerah yang berhasil mengatasi wabah DBD," pungkasnya. (Fai/Adv/DPRDKaltim)










.jpg)
