- Aris Nur Huda: Saatnya Munas HIPMI XVIII Digelar di Kaltim
- Kutim Raih Penghargaan Arindama Infrastruktur di HUT ke-69 Kaltim
- Transaksi Sabu di Tanjung Laut Indah, Pemuda di Bontang Diciduk Polisi
- Ojol Bontang Minta WiFi hingga WC, Pemkot Janji Bangun Fasilitas Khusus pada 2027
- 4 Wilayah di Bontang Terendam Banjir, Guntung Paling Parah
- BPC HIPMI Samarinda dan Bandara APT Pranoto Dorong Produk UMKM Lokal Naik Kelas
- DPRD Samarinda Soroti Lemahnya Edukasi Keluarga sebagai Faktor Penghambat Penurunan Stunting
- Celni Soroti Lonjakan Jumlah Anak Pindahan, Minta Pemerintah Benahi Distribusi Siswa Antarwilayah
- Ledakan Tren Digital Pengaruhi Perilaku Sosial, DPRD Samarinda Minta Pemkot Perkuat Literasi dan Ana
- DPRD Samarinda Ingin Arah Pembangunan Kota Lebih Visioner dan Terintegrasi
Salehuddin: Waterboom Pulau Kumala Harus Dongkrak Pariwisata Kukar

Keterangan Gambar : Sekretaris Komisi I DPRD Kaltim, Salehuddin. (Foto: Ist)
ANALOGNEWS.id, SAMARINDA – Rencana penyelesaian pembangunan Waterboom di Pulau Kumala, Kutai Kartanegara (Kukar), senilai Rp400 miliar pada akhir 2025, mendapat sambutan positif dari DPRD Kalimantan Timur (Kaltim). Namun, proyek ini diingatkan agar tidak berhenti sekadar sebagai ikon semata.
Sekretaris Komisi I DPRD Kaltim, Salehuddin, menekankan bahwa wahana air berskala besar tersebut harus menjadi momentum strategis untuk membangkitkan kembali sektor pariwisata Kukar yang selama ini stagnan.
“Pulau Kumala sudah terlalu lama mati suri. Pembangunan ini harus jadi titik balik, bukan sekadar proyek megah yang tidak berdampak,” ujar Salehuddin.
Baca Lainnya :
- Didik Agung: Ketahanan Pangan Jadi Prioritas Pembangunan Kukar0
- Didik Agung: Keterlibatan Warga Kunci Pembangunan Berkelanjutan Kukar0
- Pansus DPRD Kaltim Matangkan Ranperda Perlindungan Lingkungan0
- DPRD Kaltim Dukung Penuh Pelaksanaan Jospol di PPU0
- DPRD Kaltim Sambut Kunjungan Komisi I, IX, dan XII DPR RI0
Ia menekankan bahwa destinasi wisata harus menciptakan efek ekonomi berantai, termasuk membuka lapangan kerja, menggerakkan pelaku UMKM, dan memberi kontribusi nyata terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Setelah berdiri nanti, Waterboom harus bisa menghasilkan. Jangan cuma jadi tempat selfie, tapi tidak menambah apa-apa ke kas daerah,” katanya.
Menurut Salehuddin, Pulau Kumala selama ini justru menjadi beban anggaran karena pengelolaan yang belum optimal. Banyak peluang terbuang akibat ketiadaan sistem pendukung keberlanjutan wisata di kawasan tersebut.
“Dulu sempat ada rencana kerja sama dengan pengelola besar seperti Jatim Park, tapi gagal. Itu harus jadi pelajaran agar tidak terulang lagi,” tegasnya.
Aspek keamanan dan kenyamanan pengunjung juga menjadi perhatian. Masalah klasik seperti mati lampu di jembatan akses Pulau Kumala dan minimnya penjagaan malam hari dianggap menurunkan minat kunjungan.
“Kalau taman kota di daerah lain bisa tetap aman 24 jam, kenapa di sini jam 10 malam sudah gelap gulita? Ini urusan manajemen dasar yang belum selesai,” tambahnya.
Salehuddin mendorong Pemkab Kukar dan mitra investasinya menyiapkan sistem pengelolaan profesional yang tidak hanya fokus pada peresmian awal, tapi juga menjamin keberlanjutan operasional jangka panjang.
Ia berharap kehadiran Waterboom dapat menciptakan ekosistem wisata yang inklusif, memberdayakan warga sekitar, dan menjadikan Kukar kembali relevan sebagai salah satu destinasi utama di Kaltim.
“Wisata itu bukan sekadar hiburan, tapi mesin ekonomi. Kalau dikelola dengan benar, bisa jadi sumber PAD yang terus mengalir,” tutupnya. (SRA/ADV/DPRDKALTIM)










.jpg)
