- Pemkot Bontang Pastikan APBD 2027 Fokus pada Program Prioritas di Tengah Tekanan Fiskal
- DKP3 Bontang Bekali Nelayan Pengetahuan Mitigasi Bencana untuk Kurangi Risiko di Laut
- DKP3 Bontang Perkuat Sinergi Perluas Akses Permodalan bagi Pelaku Usaha Sektor Pangan
- DKP3 Bontang Sinkronkan Data Pupuk Bersubsidi, Pastikan Distribusi Sesuai Kebutuhan Petani
- DKP3 Bontang Terapkan Penyaluran Benih Ikan Bertahap untuk Jaga Siklus Produksi Pembudidaya
- DKP3 Bontang Cek Langsung Lokasi Budidaya Ikan Sebelum Tetapkan Penerima Bantuan
- DKP3 Libatkan Kelompok Tani Dukung Pencegahan Stunting Lewat Bantuan Ayam Petelur
- DKP3 Bontang Verifikasi Bantuan Jaring, Pastikan Sesuai Kebutuhan Nelayan
- DKP3 Bontang Perkuat Pelaporan Sisa Pangan SPPG untuk Evaluasi Program MBG
- Pemkot Bontang Perluas Transaksi Non-Tunai, Tiga OPD Terima Perangkat Pembayaran Digital
Pembangunan Chinatown Samarinda Dinilai Perlu Libatkan Komunitas dan Rencana Ekonomi Jangka Panjang

Keterangan Gambar : Anggota Komisi III DPRD Samarinda, Muhammad Andriansyah. (Foto : Ist)
ANALOGNEWS.id, SAMARINDA - Rencana Pemkot Samarinda membangun kawasan wisata bertema Chinatown mendapat perhatian dari DPRD. Meski mendukung pengembangan sektor pariwisata, DPRD menekankan pentingnya konsep yang matang dan partisipasi aktif komunitas lokal, khususnya masyarakat Tionghoa.
Anggota Komisi III DPRD Samarinda, Muhammad Andriansyah, menilai bahwa proyek seperti ini tidak boleh hanya menjadi pajangan simbolik tanpa nilai ekonomi dan budaya yang kuat.
“Kalau mau bangun Chinatown, harus jelas identitas budayanya, siapa pelaku utamanya, dan apa manfaat ekonominya bagi warga. Jangan sampai cuma jadi proyek tempelan,” ujar Aan sapaan akrabnya.
Ia menyoroti bahwa di berbagai kota lain, kawasan Chinatown tumbuh karena potensi komunitas yang memang sudah eksis dan diberdayakan, bukan semata-mata dibangun dari nol.
“Kekuatan Chinatown ada pada jati dirinya. Kalau cuma bentuk fisik tanpa kehidupan budaya dan ekonomi khas, daya tariknya lemah,” tambahnya.
Aan mendorong Pemkot untuk berdialog dengan komunitas Tionghoa, pelaku usaha, dan pegiat budaya guna merancang kawasan yang benar-benar hidup secara sosial dan ekonomis.
Menurutnya, pembangunan kawasan tematik seperti ini harus menjadi bagian dari strategi ekonomi jangka panjang, bukan sekadar proyek estetika.
“Kalau memang bisa menciptakan ruang usaha baru, mendatangkan wisatawan, dan menghidupkan UMKM, tentu kami dukung. Tapi harus berbasis konsep yang kuat dan realistis,” tegasnya.
Terakhir, ia menyebut bahwa Samarinda perlu mulai menggeser fokus ekonomi dari sektor ekstraktif ke sektor kreatif dan pariwisata. Kawasan seperti Chinatown bisa menjadi bagian dari transformasi tersebut, jika dibangun dengan fondasi yang tepat dan berkelanjutan. (ARD/Adv/DPRDSamarinda)










.jpg)
