Menggali Potensi Manufaktur untuk Perekonomian Kaltim yang Lebih Kuat

By Redaksi 18 Nov 2024, 22:41:50 WIB DPRD Kaltim
Menggali Potensi Manufaktur untuk Perekonomian Kaltim yang Lebih Kuat

Keterangan Gambar : Anggota DPRD Kaltim, Agusriansyah Ridwan. (Foto: HUMAS Sekretariat DPRD Kaltim)


ANALOGNEWS.id, SAMARINDA – Sektor manufaktur kini menjadi salah satu pilar utama dalam perekonomian Indonesia. Pada tahun 2023, sektor ini menyumbang 18,67 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, dengan total nilai mencapai 3.900 triliun rupiah. Selain itu, sektor manufaktur memiliki keterkaitan yang kuat dengan sektor-sektor lain, menjadikannya kunci dalam pembangunan ekonomi nasional. 

Melihat potensi besar sektor ini, Agusriansyah Ridwan, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kalimantan Timur (Kaltim), menilai bahwa industri manufaktur harus menjadi fokus utama dalam pengembangan ekonomi di Kaltim. 

Ia berpendapat, ketergantungan yang berlebihan pada sektor pertambangan dan hasil bumi tidak akan menjamin keberlanjutan pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Baca Lainnya :

“Kita harus berbenah dan mulai beralih fokus ke sektor manufaktur. Dengan sumber daya alam yang melimpah dan sumber daya manusia yang profesional, Kaltim memiliki potensi luar biasa untuk membangun industri manufaktur yang kuat,” ujar Agusriansyah, yang optimis dengan masa depan sektor ini di daerahnya.

Sektor manufaktur, yang berperan dalam mengubah bahan mentah menjadi barang bernilai tinggi, telah terbukti menjadi primadona investasi dalam beberapa tahun terakhir. 

Dalam enam tahun terakhir, sektor ini menyerap lebih dari 40 persen dari total investasi yang masuk ke Indonesia, dengan angka yang mencapi ratusan triliun rupiah.

Industri ini bukan hanya relevan bagi perekonomian nasional, tetapi juga sangat penting untuk Kaltim. 

“Industri manufaktur harus menjadi fokus kita. Kita perlu mendorong lebih banyak pabrik manufaktur di daerah ini untuk menciptakan ekonomi yang lebih kuat dan berkelanjutan,” lanjut Agusriansyah.

Ia juga mengingatkan pentingnya peran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dalam mengembangkan sektor ini. Menurutnya, Pemprov Kaltim perlu merancang program kerja jangka menengah dan panjang yang lebih terfokus pada pengembangan industri manufaktur. 

Pasalnya, kontribusi BUMD terhadap pendapatan daerah hingga saat ini masih tergolong minim. Pada tahun 2023, sektor manufaktur menyumbang 17,73 persen terhadap perekonomian Kaltim, atau setara dengan 149,53 triliun rupiah. 

Namun, Agusriansyah menilai angka ini masih jauh dari potensi yang seharusnya dapat diraih, jika sektor manufaktur mendapatkan perhatian yang lebih serius dari pemerintah daerah.

“Dengan pengelolaan yang tepat, pemanfaatan sumber daya yang maksimal, dan dukungan yang lebih besar, sektor manufaktur dapat menjadi motor penggerak ekonomi Kaltim. Ini adalah langkah yang harus diambil untuk jangka panjang,” tuturnya, penuh keyakinan.

Agusriansyah juga menekankan perlunya kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat untuk menciptakan ekosistem yang mendukung pertumbuhan sektor manufaktur. 

Dengan dorongan yang tepat, Kaltim dapat memperkuat daya saingnya di tingkat nasional maupun global, menciptakan lapangan pekerjaan baru, serta meningkatkan pendapatan daerah.

Industri manufaktur, yang selama ini sudah terbukti memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian Indonesia, memiliki potensi besar untuk menjadi pilar utama yang menggerakkan ekonomi Kaltim di masa depan. (Fai/Adv/DPRDKaltim)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Loading....


Kanan - Iklan Sidebar

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Instagram, Youtube dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.