- Aris Nur Huda: Saatnya Munas HIPMI XVIII Digelar di Kaltim
- Kutim Raih Penghargaan Arindama Infrastruktur di HUT ke-69 Kaltim
- Transaksi Sabu di Tanjung Laut Indah, Pemuda di Bontang Diciduk Polisi
- Ojol Bontang Minta WiFi hingga WC, Pemkot Janji Bangun Fasilitas Khusus pada 2027
- 4 Wilayah di Bontang Terendam Banjir, Guntung Paling Parah
- BPC HIPMI Samarinda dan Bandara APT Pranoto Dorong Produk UMKM Lokal Naik Kelas
- DPRD Samarinda Soroti Lemahnya Edukasi Keluarga sebagai Faktor Penghambat Penurunan Stunting
- Celni Soroti Lonjakan Jumlah Anak Pindahan, Minta Pemerintah Benahi Distribusi Siswa Antarwilayah
- Ledakan Tren Digital Pengaruhi Perilaku Sosial, DPRD Samarinda Minta Pemkot Perkuat Literasi dan Ana
- DPRD Samarinda Ingin Arah Pembangunan Kota Lebih Visioner dan Terintegrasi
Imbas Larangan Ekspor, Petani Sawit di Kaltim Gigit Jari

ANALOGNEWS.id - Petani sawit di Kalimantan Timur (Kaltim) mulai merasakan dampak dari kebijakan pemerintah soal larangan untuk ekspor CPO, minyak goreng, RBD (refined, bleached, and deodorised) palm oil, dan RBD palm olein yang diberlakukan sejak 28 April 2022
Salah seorang petani di Kecamatan Marangkayu, Kabupaten Kutai Kartanegara mengungkapkan kegelisahannya imbas dari kebijakan itu. Dia mengatakan, sawit hasil panen mereka tak dapat dijual.
"Tidak ada pembeli, jadi sudah dua mingguan ini kami belum panen," kata Rahman saat di temui pada Sabtu, (7/5/2022).
Baca Lainnya :
- KPK Rilis Harta Bakal Capres 2024, Anies Paling Miskin Sandi Terkaya0
- Bambang Brojonegoro Ditunjuk Jadi Ketua Tim Penasihat Transisi Pemindahan IKN0
- Skema Penetapan Endemi Covid-19 Menunggu Hasil Evaluasi Pasca Mudik Lebaran0
- H+3 Lebaran, Pemkot Samarinda Bersih-Bersih Pasar Tradisional0
- Kasus Hepatitis Akut Misterius, Ini Kata Kemenkes0
Dia menyampaikan, sejak larangan ekspor itu diberlakukan para pengepul mulai enggan membeli sawit hasil panen mereka. Sehingga, beberapa petani, kata dia mengalami kerugian, karena sawit yang telah dipanen rusak tak terjual.
Bahkan, kata Rahman, sejak sebelum lebaran para pengepul di daeranya tidak membeli sawit petani. Imbasnya, uang untuk berlebaran pun tak mereka dapatkan.
"Kami dukung jika kebijakaan ini untuk menghindari kelangkaan minyak goreng, tapi perhatikan kami (petani sawit)," ujarnya.
Sebelum adanya larangan ekspor sawit, harga beli tandan buah segar (TBS) dari pengepul mencapai Rp2.900. Namun harga TBS turun drastis menjadi Rp1.800 setelah kebijakan itu diberlakukan. (*/An)










.jpg)
