- Aris Nur Huda: Saatnya Munas HIPMI XVIII Digelar di Kaltim
- Kutim Raih Penghargaan Arindama Infrastruktur di HUT ke-69 Kaltim
- Transaksi Sabu di Tanjung Laut Indah, Pemuda di Bontang Diciduk Polisi
- Ojol Bontang Minta WiFi hingga WC, Pemkot Janji Bangun Fasilitas Khusus pada 2027
- 4 Wilayah di Bontang Terendam Banjir, Guntung Paling Parah
- BPC HIPMI Samarinda dan Bandara APT Pranoto Dorong Produk UMKM Lokal Naik Kelas
- DPRD Samarinda Soroti Lemahnya Edukasi Keluarga sebagai Faktor Penghambat Penurunan Stunting
- Celni Soroti Lonjakan Jumlah Anak Pindahan, Minta Pemerintah Benahi Distribusi Siswa Antarwilayah
- Ledakan Tren Digital Pengaruhi Perilaku Sosial, DPRD Samarinda Minta Pemkot Perkuat Literasi dan Ana
- DPRD Samarinda Ingin Arah Pembangunan Kota Lebih Visioner dan Terintegrasi
Pelajaran Membatik, Upaya Menjaga Warisan Budaya di Tengah Arus Modernisasi

Keterangan Gambar : Ilustrasi anak-anak sekolah yang sedang belajar membatik. (Foto: Ist)
ANALOGNEWS.id, SAMARINDA – Dalam upaya melestarikan warisan budaya, pemerintah berencana memasukkan pelajaran membatik ke dalam kurikulum Sekolah Menengah Atas (SMA). Gagasan ini mendapat sambutan hangat dari berbagai pihak, termasuk Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kalimantan Timur (Kaltim), Nurhadi Saputra, yang melihatnya sebagai langkah strategis untuk menghidupkan kembali kecintaan generasi muda terhadap seni tradisional Indonesia.
“Pelajaran membatik ini bukan hanya soal keterampilan, tetapi juga cara untuk memperdalam pemahaman siswa tentang keberagaman budaya Indonesia," ujar Nurhadi.
Politisi yang dikenal aktif memperjuangkan pelestarian budaya lokal ini menekankan pentingnya generasi muda memahami nilai-nilai budaya sebagai identitas bangsa.
Nurhadi menggarisbawahi pentingnya memperkenalkan motif batik khas Kalimantan Timur, yang selama ini kurang dikenal dibandingkan batik dari Pulau Jawa.
"Batik sering diasosiasikan dengan budaya Jawa. Padahal, Kalimantan Timur memiliki motif khas yang kaya makna simbolis. Ini kesempatan untuk memperkenalkan kekayaan budaya kita," tuturnya.
Ia menambahkan bahwa motif-motif batik Kalimantan Timur, seperti motif tumbuhan dan fauna khas Borneo, mencerminkan kearifan lokal yang patut diapresiasi. Melalui pelajaran ini, siswa tidak hanya mengenal budaya nasional, tetapi juga budaya daerah yang menjadi identitas mereka.
Menurut Nurhadi, rencana memasukkan pelajaran membatik dalam kurikulum harus mencakup praktik langsung agar siswa dapat memahami proses kreatif di balik pembuatan batik.
“Dengan praktik, siswa tidak hanya belajar teknik, tetapi juga mengembangkan kreativitas mereka dengan mengolah motif khas lokal menjadi karya yang unik," jelasnya.
Ia berharap pengalaman ini menjadi ruang bagi siswa untuk mengeksplorasi potensi seni mereka, sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya Indonesia. Selain itu, kegiatan membatik dapat membuka peluang ekonomi kreatif di masa depan, jika siswa mampu mengembangkan keterampilan tersebut menjadi usaha.
Nurhadi juga mendorong pemerintah daerah dan dinas pendidikan untuk mendukung implementasi program ini secara maksimal. Ia menekankan perlunya pelatihan bagi guru, penyediaan fasilitas membatik di sekolah, dan kolaborasi dengan seniman lokal agar pelajaran ini berjalan optimal.
"Pelajaran ini adalah langkah nyata untuk menanamkan nilai-nilai budaya pada anak-anak kita. Saya berharap melalui program ini, generasi muda semakin mencintai budaya lokal dan turut berperan aktif dalam melestarikannya," tegasnya.
Di tengah arus modernisasi, pelajaran membatik di sekolah diharapkan tidak hanya menjadi tambahan mata pelajaran, tetapi juga simbol komitmen bangsa dalam menjaga eksistensi warisan budaya. Dengan memadukan teori dan praktik, langkah ini menjadi salah satu cara menanamkan kebanggaan budaya di hati generasi penerus.
Seperti halnya motif batik yang sarat dengan cerita, inisiatif ini menjadi upaya menceritakan kembali keindahan tradisi kepada generasi muda, agar nilai-nilai luhur budaya Indonesia tetap hidup dan berkembang. (Fai/Adv/DPRDKaltim)










.jpg)
