- Pemkot Bontang Pastikan APBD 2027 Fokus pada Program Prioritas di Tengah Tekanan Fiskal
- DKP3 Bontang Bekali Nelayan Pengetahuan Mitigasi Bencana untuk Kurangi Risiko di Laut
- DKP3 Bontang Perkuat Sinergi Perluas Akses Permodalan bagi Pelaku Usaha Sektor Pangan
- DKP3 Bontang Sinkronkan Data Pupuk Bersubsidi, Pastikan Distribusi Sesuai Kebutuhan Petani
- DKP3 Bontang Terapkan Penyaluran Benih Ikan Bertahap untuk Jaga Siklus Produksi Pembudidaya
- DKP3 Bontang Cek Langsung Lokasi Budidaya Ikan Sebelum Tetapkan Penerima Bantuan
- DKP3 Libatkan Kelompok Tani Dukung Pencegahan Stunting Lewat Bantuan Ayam Petelur
- DKP3 Bontang Verifikasi Bantuan Jaring, Pastikan Sesuai Kebutuhan Nelayan
- DKP3 Bontang Perkuat Pelaporan Sisa Pangan SPPG untuk Evaluasi Program MBG
- Pemkot Bontang Perluas Transaksi Non-Tunai, Tiga OPD Terima Perangkat Pembayaran Digital
Pelajaran Membatik, Upaya Menjaga Warisan Budaya di Tengah Arus Modernisasi

Keterangan Gambar : Ilustrasi anak-anak sekolah yang sedang belajar membatik. (Foto: Ist)
ANALOGNEWS.id, SAMARINDA – Dalam upaya melestarikan warisan budaya, pemerintah berencana memasukkan pelajaran membatik ke dalam kurikulum Sekolah Menengah Atas (SMA). Gagasan ini mendapat sambutan hangat dari berbagai pihak, termasuk Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kalimantan Timur (Kaltim), Nurhadi Saputra, yang melihatnya sebagai langkah strategis untuk menghidupkan kembali kecintaan generasi muda terhadap seni tradisional Indonesia.
“Pelajaran membatik ini bukan hanya soal keterampilan, tetapi juga cara untuk memperdalam pemahaman siswa tentang keberagaman budaya Indonesia," ujar Nurhadi.
Politisi yang dikenal aktif memperjuangkan pelestarian budaya lokal ini menekankan pentingnya generasi muda memahami nilai-nilai budaya sebagai identitas bangsa.
Nurhadi menggarisbawahi pentingnya memperkenalkan motif batik khas Kalimantan Timur, yang selama ini kurang dikenal dibandingkan batik dari Pulau Jawa.
"Batik sering diasosiasikan dengan budaya Jawa. Padahal, Kalimantan Timur memiliki motif khas yang kaya makna simbolis. Ini kesempatan untuk memperkenalkan kekayaan budaya kita," tuturnya.
Ia menambahkan bahwa motif-motif batik Kalimantan Timur, seperti motif tumbuhan dan fauna khas Borneo, mencerminkan kearifan lokal yang patut diapresiasi. Melalui pelajaran ini, siswa tidak hanya mengenal budaya nasional, tetapi juga budaya daerah yang menjadi identitas mereka.
Menurut Nurhadi, rencana memasukkan pelajaran membatik dalam kurikulum harus mencakup praktik langsung agar siswa dapat memahami proses kreatif di balik pembuatan batik.
“Dengan praktik, siswa tidak hanya belajar teknik, tetapi juga mengembangkan kreativitas mereka dengan mengolah motif khas lokal menjadi karya yang unik," jelasnya.
Ia berharap pengalaman ini menjadi ruang bagi siswa untuk mengeksplorasi potensi seni mereka, sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya Indonesia. Selain itu, kegiatan membatik dapat membuka peluang ekonomi kreatif di masa depan, jika siswa mampu mengembangkan keterampilan tersebut menjadi usaha.
Nurhadi juga mendorong pemerintah daerah dan dinas pendidikan untuk mendukung implementasi program ini secara maksimal. Ia menekankan perlunya pelatihan bagi guru, penyediaan fasilitas membatik di sekolah, dan kolaborasi dengan seniman lokal agar pelajaran ini berjalan optimal.
"Pelajaran ini adalah langkah nyata untuk menanamkan nilai-nilai budaya pada anak-anak kita. Saya berharap melalui program ini, generasi muda semakin mencintai budaya lokal dan turut berperan aktif dalam melestarikannya," tegasnya.
Di tengah arus modernisasi, pelajaran membatik di sekolah diharapkan tidak hanya menjadi tambahan mata pelajaran, tetapi juga simbol komitmen bangsa dalam menjaga eksistensi warisan budaya. Dengan memadukan teori dan praktik, langkah ini menjadi salah satu cara menanamkan kebanggaan budaya di hati generasi penerus.
Seperti halnya motif batik yang sarat dengan cerita, inisiatif ini menjadi upaya menceritakan kembali keindahan tradisi kepada generasi muda, agar nilai-nilai luhur budaya Indonesia tetap hidup dan berkembang. (Fai/Adv/DPRDKaltim)










.jpg)
