- Pemkot Bontang Pastikan APBD 2027 Fokus pada Program Prioritas di Tengah Tekanan Fiskal
- DKP3 Bontang Bekali Nelayan Pengetahuan Mitigasi Bencana untuk Kurangi Risiko di Laut
- DKP3 Bontang Perkuat Sinergi Perluas Akses Permodalan bagi Pelaku Usaha Sektor Pangan
- DKP3 Bontang Sinkronkan Data Pupuk Bersubsidi, Pastikan Distribusi Sesuai Kebutuhan Petani
- DKP3 Bontang Terapkan Penyaluran Benih Ikan Bertahap untuk Jaga Siklus Produksi Pembudidaya
- DKP3 Bontang Cek Langsung Lokasi Budidaya Ikan Sebelum Tetapkan Penerima Bantuan
- DKP3 Libatkan Kelompok Tani Dukung Pencegahan Stunting Lewat Bantuan Ayam Petelur
- DKP3 Bontang Verifikasi Bantuan Jaring, Pastikan Sesuai Kebutuhan Nelayan
- DKP3 Bontang Perkuat Pelaporan Sisa Pangan SPPG untuk Evaluasi Program MBG
- Pemkot Bontang Perluas Transaksi Non-Tunai, Tiga OPD Terima Perangkat Pembayaran Digital
Lingkaran Setan, Beban Petani dan Keluhan Masyarakat di Tengah Melonjaknya Harga Beras

Keterangan Gambar : Anggota DPRD Kaltim, Guntur. (Foto: Ist)
ANALOGNEWS.id, SAMARINDA – Di hamparan sawah yang membentang di Kalimantan Timur, para petani menghadapi kenyataan pahit. Bukan karena hasil panen mereka berkurang, melainkan lonjakan harga pupuk yang membuat biaya produksi kian mencekik. Dampaknya? Harga beras terus meroket, meninggalkan konsumen dan petani dalam lingkaran permasalahan yang tak kunjung selesai.
Guntur, Anggota DPRD Kaltim dari daerah pemilihan Kutai Kartanegara, memahami keresahan ini. Ia kerap mendengar langsung keluhan petani tentang tingginya harga pupuk yang menjadi salah satu penyebab utama kenaikan harga gabah.
“Ketika pupuk mahal, biaya produksi otomatis naik. Petani tak punya pilihan selain menjual gabah dengan harga tinggi, dan ini berimbas langsung pada harga beras yang harus dibayar konsumen,” ujarnya dengan nada prihatin.
Bagi petani, mahalnya pupuk seperti menyelesaikan satu masalah dengan menciptakan masalah baru. Di satu sisi, mereka harus tetap menanam padi demi kebutuhan pangan. Namun di sisi lain, biaya tinggi membuat mereka terjebak dalam pilihan sulit: menjual gabah dengan harga tinggi atau rugi besar.
Sementara itu, bagi masyarakat umum, harga beras yang terus naik menambah beban pengeluaran harian. Di tengah situasi ekonomi yang tidak menentu, lonjakan harga ini menjadi ancaman nyata bagi ketahanan pangan.
“Ini seperti lingkaran setan,” tambah Guntur. “Petani tertekan oleh biaya produksi, dan konsumen akhirnya harus menanggung harga yang tidak masuk akal.”
Untuk mengatasi permasalahan ini, Guntur menawarkan solusi yang berakar pada potensi lokal. Ia percaya, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) bisa menjadi kunci untuk menyediakan pupuk dengan harga yang lebih terjangkau.
“BUMDes dan BUMD memiliki peran strategis. Jika mereka dapat menjual pupuk dengan harga yang lebih murah, maka petani bisa mengurangi biaya produksi. Pada akhirnya, harga gabah dan beras pun lebih stabil,” jelasnya.
Namun, solusi ini tidak hanya berhenti pada pupuk murah. Guntur juga menekankan pentingnya memperbaiki sistem distribusi pupuk dan meningkatkan ketersediaan gabah di pasar lokal. Dengan langkah ini, ketergantungan pada pihak ketiga yang sering mempermainkan harga dapat diminimalkan.
Di tengah tantangan yang ada, Guntur tetap optimis bahwa masalah ini dapat diatasi. Ia berharap pemerintah dan masyarakat bersama-sama mengambil langkah konkret untuk mendukung petani.
“Petani adalah tulang punggung ketahanan pangan kita. Jika mereka dibantu, seluruh masyarakat juga akan merasakan manfaatnya,” katanya menutup percakapan.
Bagi para petani di Kalimantan Timur, dukungan nyata dari pemerintah menjadi harapan besar. Sementara mereka terus mengolah tanah dan menanam padi, mereka hanya bisa berharap lingkaran masalah ini segera berakhir, dan keseimbangan antara harga dan kesejahteraan dapat tercipta. (Fai/Adv/DPRDKaltim)










.jpg)
