Buruh dan Petani Unjuk Rasa Terkait Kelangkaan dan Kenaikan Harga Minyak Goreng

By Redaksi 22 Mar 2022, 20:24:55 WIB Ekonomi
Buruh dan Petani Unjuk Rasa Terkait Kelangkaan dan Kenaikan Harga Minyak Goreng

Keterangan Gambar : Massa aksi didepan kantor Kemendag (int)


ANALOGNEWS.id - Buruh bersama petani melakukan unjuk rasa di depan Kantor Kementrian Perdagangan (Kemendag) Jakarta Pusat, hari ini, Selasa (22/3/2022).

Aksi mereka itu terkait harga minyak goreng yang masih tinggi. Mengutip detikcom, massa aksi memadati Jalan M.I. Ridwan Rais, Gambir. Massa menyerukan lima tuntutan yang disampaikan Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal.

"Pertama, meminta Menteri Perdagangan (Mendag) untuk menurunkan harga minyak goreng. Kedua, memastikan ketersediaan minyak goreng bagi rakyat," jelasnya.

Baca Lainnya :

Ketiga, meminta harga eceran tertinggi kembali diterapkan untuk minyak goreng kemasan, tidak menggunakan harga pasar.

Keempat, menghentikan penjualan minyak goreng curah. Pasalnya, disampaikan Said, Kemendag dan Kementerian Kesehatan sendiri tahun lalu bilang bahwa minyak goreng curah berbahaya untuk kesehatan masyarakat.

"Kelima, kami minta Mendag diganti oleh Presiden Jokowi (Joko Widodo)," ucapnya.

Alasannya, karena Mendag telah gagal mengendalikan kenaikan harga bahan pokok dan minyak goreng.

Berselang beberapa waktu, audiensi antara massa aksi dan Kemendag pun dilakukan. Massa aksi diwakili Said dan Kemendag diwakili Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Oke Nurwan.

Said mengatakan pada pertemuan itu buruh meminta agar Kemendag menurunkan harga minyak goreng kemasan dan minyak goreng curah. Namun, Said bercerita, Kemendag bersikeras minyak goreng curah bisa disubsidi, tapi minyak goreng kemasan tetap dengan skema harga pasar.

"Kita menolak, yang kita minta adalah turunkan harga minyak goreng kemasan, termasuk minyak goreng curah," jelasnya.

"Yang disubsidi harus minyak goreng kemasan dan minyak goreng curah, dua-duanya. Dengan demikian kita minta minyak goreng kemasan harganya menjadi Rp 11.000 hingga Rp 14.000. Sedangkan, minyak goreng curah lebih murah lagi," papar Said.

Said mengungkapkan pemerintah tetap dengan keputusannya menaikkan pungutan ekspor dan bea keluar bagi komoditas minyak sawit. Pungutan itu dimasukkan kas negara dengan harapan bisa terkumpul US$ 6,8 miliar.

"Dengan harapan dapat US$ 6,8 miliar. Itu yang dijadikan subsidi minyak goreng curah. Besar sekali kan untuk subsidi minyak goreng curah, rencananya juga untuk bantuan langsung tunai. Kita tolak," ungkap Said.

Apabila tuntutan menurunkan harga minyak goreng kemasan dan minyak goreng curah tidak dilakukan, Said mengatakan serikat buruh akan bergerak lebih besar lagi.

"Kalau satu minggu tidak didengarkan akan demo besar-besaran se-Indonesia," ujarnya.

Buruh akan menggeruduk kantor-kantor gubernur dengan tujuan gubernur bisa menyampaikan aspirasi buruh ke DPR RI dan pemerintah pusat. Selain itu, buruh juga menargetkan melakukan aksi ke kantor Mendag. (Red/AN)

Sumber : detikcom




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Loading....


Kanan - Iklan Sidebar

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Instagram, Youtube dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.